Kejayaan Isalam Bukan Dengan Penampilan

Oleh: al Ustadz Abu Humaid Rosyid an Nashr

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai pada sebuah telaga di jalan yang menuju ke daerah Ilya’, sedangkan ada pada beliau sebuah gamis dari ba­han kain kasar yang telah digambar dan tepi ujung gamis itu terbakar. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pang­gilkan untukku, mana pemimpin kalian?” Mereka pun memanggil pemimpin mereka yang bernama Jalmus. Umar berkata, “Cucilah baju saya ini dan ja­hitlah, kemudian ukurlah ukuran baju atau gamis.”

Maka didatangkan kepada beliau sebuah kain “Kat­tan”. Umar bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Kattan.” Umar bertanya lagi, “Apa itu kain Kattan?” Lalu mereka pun menjelaskan tentang kain tersebut. Maka beliau melepaskan pakaiannya, lalu mencuci­nya dan mengukurnya, lalu diberikan kepada be­liau. Maka Umar melepas lagi pakaian mereka lalu memakai pakaiannya.

Lalu Jalmus mengatakan, “Kamu adalah seorang pemimpin Arab, dan negeri ini adalah sebuah negeri yang tidak pantas unta ada di negeri ini. Kalau seandainya engkau memakai pa­kaian selain pakaian yang engkau kenakan dan eng­kau mengendarai seekor kuda tunggangan, maka itu akan lebih mulia untukmu di mata rakyat Romawi.” Maka Umar berkata:

“Kami adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka kami tidak ingin mencari pengganti kecuali Allah.”

Dan dalam riwayat yang lain: “Sesungguhnya ka­lian dahulu adalah paling hina, paling rendah, dan paling sedikitnya manusia, lalu Allah muliakan ka­lian dengan Islam. Maka apa saja yang kamu cari dari bentuk kemuliaan selain Allah, niscaya Allah akan hinakan kalian.” (Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 7/6o)

FAEDAH KISAH DI ATAS

1. Sesungguhnya pemimpin kaum muslimin zaman dahulu tidak takjub sedikit pun ke­pada musuh-musuh Islam, bahkan menghi­nakan apa yang ada pada mereka. Sebagai­mana firman Allah:

“Apakah kamu akan memberikan harta kepa­daku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu. (QS. an-Naml [27]:36)

2. Seorang muslim menjadi mulia karena Is­lam, sebagaimana firman Allah:

Katakanlah (wahai Muhammad): “Dengan ka­runia Allah dan rahmat-Nya hendaknya dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus [10] :58)

3. Meninggalkan Islam adalah suatu kehi­naan dan kelemahan

4. Hendaknya seorang muslim meninggalkan perkara yang membuat takjub orang lain dan perkara yang melalaikan. Allah Azza wa Jalla ber­firman:

Maka dia berkata, “Sesungguhnya aku menyu­kai segala sesuatu yang baik (kuda) yang mem­buat aku tersibukkan dari ingat akan kekuasaan Tuhanku. ” (QS. Shad [38]:32) []

Sumber: Majalah al Furqon Edisi 1 Tahun Keduabelas Sya’ban 1433 Hal.15

 

 

 

Posted on August 30, 2012, in Arti Islam and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: