Cara Berdakwah Tidak Hanya Ceramah

Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar kepada seluruh umat manusia. Risalah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa ini akan kekal sampai hari kiamat. Risalah ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla agar menjadi petunjuk bagi seluruh makhluk demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [al-Anbiyâ’/21:107]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalah Rabbnya dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berjalan di atas manhajnya. Dakwah membimbing umatnya agar beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan berjalan diatas syari’at Allâh Azza wa Jalla adalah misi para Rasul. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Beribadahlah kalian kepada Allâh (saja), dan jauhilah thaghut itu” [an-Nahl/16:36] Read the rest of this entry

Sosok ideal Seorang Da’i

SOSOK IDEAL SEORANG DA’I

Oleh
Ustadz Abu Saad Mohammad Nur Huda

Sesungguhnya menyeru menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan tugas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga para pengikutnya, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah :

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108]

Syaikh As Sa’di berkata tentang ayat ini di dalam tafsirnya : “Ini adalah jalanku yang aku menyeru kepadanya, dan jalan inilah yang mengantarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju taman kemuliaanNya dan mengandung makna mengetahui kebenaran, beramal dengannya, mendahulukan itu semua sebelum yang lainnya, serta mengikhlaskan agama hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata tidak ada sekutu bagiNya”. Read the rest of this entry

Hikmah dalam berdakwah

HIKMAH DALAM BERDAKWAH

Oleh
Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

DAKWAH ISLAM PADA ASALANYA HARUS DISAMPAIKAN DENGAN LEMAH LEMBUT.
Ini merupakan asas dalam berdakwah. Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [An-Nahl/16:125]

Ibnu Katsîr berkata dalam tafsirnya: “Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad n agar menyeru manusia kepada agama Allah Azza wa Jalla dengan cara hikmah.”

Firman Allah Azza wa Jalla , “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” yakni, apabila perlu dilakukan dialog dan tukar pikiran, hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut dan dengan tutur kata yang baik. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam ayat yang lain:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka.” [al-Ankabût/29:46]

Ini merupakan landasan penting yang wajib dipegang oleh setiap juru dakwah pada zaman sekarang ini dalam mengajak manusia kepada agama Allah Azza wa Jalla . Sebab, lemah lembut dalam berdakwah disertai pengajaran yang baik, jauh dari sikap congkak dan tidak mengklaim secara serampangan orang yang berseberangan dengan vonis fasik atau kafir.

Al-Khalâl telah meriwayatkan dengan sanad yang shahîh dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya tentang masalah dakwah ini. Beliau menjawab: “Sahabat-sahabat Abdullâh berkata : “berdakwahlah dengan berlemah lembut, semoga Allah Azza wa Jalla merahmati kamu, berlemah lembutlah!” [1]

ANTARA DAKWAH DAN JURU DAKWAH
Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yûsuf/12:108]

Dakwah adalah tugas yang berat dan pekerjaan yang serius yang hanya bisa dipikul oleh orang-orang yang mulia. Juru dakwah yang mengajak kepada agama Allah Azza wa Jalla pasti menghadapi gangguan dalam dakwah sebagaimana yang dihadapi oleh siapa saja yang mengemban tugas dakwah ini, dari dahulu sampai sekarang. Itu sudah menjadi sunnatullâh pada orang-orang terdahulu dan sekarang. Para nabi juga telah menghadapi gangguan serupa berupa penentangan, penolakan, keengganan dan kesombongan dari berbagai pihak dan tingkatan manusia.

Maka dalam mengemban tugas dakwah yang berat dan penuh resiko ini seorang juru dakwah harus menghiasi dirinya dengan sikap santun dan sabar, bijaksana dan arif.

HIKMAH SEORANG JURU DAKWAH
Allah Azza wa Jalla berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. [al-Baqarah/2:269]

Hikmah adalah sebuah ungkapan tentang bagaimana menyelesaikan setiap masalah dengan ilmu yang benar. Hikmah identik dengan fiqh dan pemahaman. Hikmah digunakan juga untuk berbagai makna, seperti as-Sunnah, akal, kebijaksanaan dan lain-lainnya. Hikmah juga bisa berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya dan mengerjakan sesuatu pada momentum yang tepat. Hikmah juga berarti menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah lain atau masalah yang lebih besar lagi merupakan bukti ketiadaan hikmah.

Di antara perkara yang memperkeruh dakwah kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dakwah yang dilakukan dengan keras, kasar dan arogan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan membuatnya lebih bagus, dan tidak akan tercabut sesuatu darinya kecuali akan membuatnya jelek.” [HR. Muslim]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya, maka ia diharamkan dari kebaikan”.[HR. Muslim]

Hendaklah seorang da’i (juru dakwah) meniru akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dakwahnya, di antara akhlak yang paling agung itu adalah kelembutan.

Syaikh Bin Bâz berkata, “Kewajiban kita adalah berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla . Memberi nasihat dan pengarahan kepada perkara yang baik tanpa kekerasan. Sebab kekerasan hanya akan membuka pintu keburukan terhadap kaum Muslimin dan akan mempersulit dakwah.” [2]

Syaikh al-Albâni berkata, “Tidak ragu lagi, ini merupakan perkara pertama yang dituntut dari seorang da’i, yaitu bersikap lemah lembut dan santun. Ia tidak boleh bersikap kasar terhadap orang-orang yang berseberangan. Apalagi bila orang itu masih berada dalam satu ushûl dakwah dengannya, yaitu dakwah kepada al-Qur’an dan Sunnah.” [3]

Sikap lemah lembut dan hikmah ini tidaklah meniadakan ketegasan dalam memegang prinsip dan menyatakan sikap yang syar’i, misalnya ketika melihat kehormatan Islam dilecehkan. Ada momen-momen tertentu yang mana kita harus memperlihatkan ketegasan dalam bersikap. Maka dari itu kita harus membedakan antara mudârât dan mudâhanah.

APA ITU MUDARAT DAN MUDHAHAH?
Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara mudârât dan mudâhanah. Mudârât adalah salah satu sikap bijaksana dalam mu’amalah yang menyampaikan kepada tujuan, dengan tetap menjaga kehormatan dan martabat. Adapun mudâhanah adalah perilaku tercela yang dibungkus dengan kebohongan dan memungkiri janji.

Ibnu Baththâl berkata: “Mudârât adalah akhlak mukmin, yaitu merendahkan diri kepada orang lain, melunakkan perkataan dan meninggalkan sifat kasar. Mudârât adalah sebab paling kuat terciptanya persatuan. Sebagian orang mengira bahwa mudârât sama dengan mudâhanah. Itu sangat keliru! Karena mudârât adalah sifat yang dianjurkan sementara mudâhanah adalah sifat yang diharamkan. Bedanya, mudâhahah diambil dari kata ad-dahân, yaitu menampakkan sesuatu secara lahiriyah tapi menyembunyikan batinnya. Para ulama mengidentikkannya dengan pergaulan dengan orang fasiq, menunjukkan persetujuan terhadap kefasikannya tanpa mengingkarinya sedikitpun.

Al-Bukhâri telah membuat bab dalam shahîhnya, beliau berkata: “Bab: Mudârât dalam bermu’amalah dengan orang lain. Kemudian beliau membawakan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa seorang lelaki meminta izin bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau berkata: “Berilah izin kepadanya, seburuk-buruk putera kabilah atau saudara kabilah.” Ketika ia masuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan lunak kepadanya. ‘Aisyah bertanya-tanya: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, engkau tadi mengatakan begini dan begitu, kemudian engkau berbicara lemah lembut kepadanya?”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Hai ‘Aisyah, seburuk-buruk manusia di sisi Allah Azza wa Jalla adalah yang ditinggalkan atau dijauhi orang lain karena menghindari kekejiannya.” [Muttafaqun ‘alaihi].

Mudârât adalah berlaku lembut terhadap orang jahil dalam memberikan pengajaran dan terhadap orang fasik ketika melarang perbuatan fasiknya, tidak bersikap kasar terhadapnya. Yang mana ia tidak menunjukkan kemarahannya. Mengingkarinya dengan perkataan dan memperlakukannya dengan lembut. [4]

DI ANTARA CONTOH HIKMAH DALAM DAKWAH
Berikut ini beberapa contoh hikmah dalam dakwah yang apabila diabaikan bisa memicu timbulnya konflik di tengah masyarakat.

1. Memperhatikan Kondisi Orang Yang Didakwahi.
Seorang da’i harus memperhatikan kondisi orang yang didakwahinya. Jangan main pukul rata saja. Ia harus memperhatikan cara yang paling bermanfaat dalam mendakwahi mereka. Cara yang bermanfaat untuk masyarakat umum belum tentu cocok untuk mendakwahi raja atau penguasa atau orang yang terpandang, seperti tokoh masyarakat misalnya. Allah Azza wa Jalla telah berkata kepada Musa dan Harun ketika mengutus mereka kepada Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut”. [Thaha/20:44]

Cara dakwah yang bermanfaat bagi kaum pedagang keliling, belum tentu bermanfaat jika digunakan untuk mendakwahi kaum intelektual dan terpelajar. Salah satu bentuk hikmah adalah memperhatikan cara yang paling bermanfaat yang dapat memperbaiki bermacam-macam jenis manusia yang berasal dari berbagai tingkatan dan golongan.

2. Memperhatikan Waktu Dan Kondisi Dalam Berdakwah.
Tidak arif bila mendatangi seorang yang sedang tidur, lalu membangunkannya untuk didakwahi. Dan tidak bijaksana bila mendatangi seseorang yang sedang emosi untuk berceramah di hadapannya. Andaikata dalam kondisi normal tentulah orang itu akan mau mendengar kata-kata kita. Pilihlah waktu dan kondisi yang tepat untuk berdakwah. Ketika suasana atau kondisi sedang tegang atau keruh hindarilah perdebatan maupun dialog hingga ketegangan mereda. Sebab bila dipaksakan bisa menimbulkan hasil yang kontra produktif (tidak menguntungkan). Dan kalau seandainya kebenaran itu baru bisa diterima melalui lisan orang lain mengapa harus memaksakannya melalui lisan kita?

3. Meletakkan Skala Prioritas Yang Tepat.
Seorang da’i harus bisa menempatkan skala prioritas yang benar dalam dakwah. Hendaklah ia mendahulukan perkara yang paling penting, tidak sepantasnya ia mendahulukan perkara-perkara yang kecil lalu ia meninggalkan perkara yang lebih besar dan lebih berbahaya. Salah dalam meletakkan skala prioritas bisa mengakibatkan penyimpangan dalam dakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita contoh dari skala prioritas tersebut. Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Muadz Radhiyallahu anhu ke negeri Yaman, beliau berkata kepadanya:

إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ

“ Engkau bakal mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab, maka jadikanlah awal dakwahmu kepada mereka adalah peribadatan kepada Allah semata. Jika mereka telah mengenali Allah, sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka melakukannya maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada fakir miskin diantara mereka. Jika mereka mentaatinya maka ambillah harta-harta itu dari mereka, dan hindarilah harta-harta kesayangan mereka.” [5]

4. Tidak Memandang Rendah Orang Yang Didakwahi.
Sikap meremehkan ini dapat membuat orang yang didakwahi tidak mau mendengar dakwah kita. Janganlah sekali-kali mengesankan dirimu lebih baik daripadanya. Atau memandang dirimu lebih istimewa darinya. Atau membuatnya marah pada kesan pertama. Mu’tamir bin Sulaiman meriwayatkan bahwa ia mendengar ayahnya berkata, “Jangan harap orang yang telah engkau buat marah mau mendengarkan kata-katamu.” [6] Namun beri kesan bahwa engkau adalah saudara baginya. Hindarilah cepat-cepat menjatuhkan vonis secara membabi buta dan serampangan karena cara itu sama sekali tidak hikmah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana sikap seorang muslim kepada orang yang lebih tua dan yang lebih muda darinya. Yaitu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Sikap menghargai orang lain terutama dalam konteks dakwah dapat mempermudah diterimanya dakwah kita.

5. Meninggalkan Perkara Mustahab (Sunat) Untuk Kekhawatiran Akan Menimbulkan Kemudharatan Yang Lebih Besar.
Al-Bukhâri telah membuat sebuah bab yang berjudul: “Meninggalkan perkara mustahab karena khawatir orang-orang salah memahami sehingga jatuh kepada kerusakan yang lebih parah lagi”. Kemudian beliau membawakan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِكُفْرٍ لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ بَابٌ يَدْخُلُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُونَ.

“Wahai ‘Aisyah, jika bukan karena menimbang kaummu yang baru – Ibnu Az-Zubair berkata, “Yakni baru meninggalkan kekufuran,”- niscaya aku sudah merombak Ka’bah, aku akan buat dua pintu, pintu masuk dan pintu keluar.”

Ibnu Hajar menyebutkan beberapa faedah dari hadits tersebut, di antaranya: Dibolehkan meninggalkan sebuah maslahat demi mengindari mudharat dan tidak mengingkari kemungkaran jika khawatir akan menimbulkan kemungkaran yang lebih parah.

6. Berbicara Kepada Manusia Sesuai Dengan Daya Nalar Mereka Dalam Memahaminya.
Ini sangat penting diperhatikan untuk menghindari kesalahpahaman yang berpotensi memicu konflik. Demikian pula dalam menyampaikan ilmu agama kepada manusia, harus diperhatikan tingkat pemahaman mereka dalam mencerna apa yang akan disampaikan, jangan sampai kata-kata kita menimbulkan fitnah bagi masyarakat awam. Al-Bukhâri telah membuat bab dalam shahîhnya, bab mengkhususkan sebuah ilmu kepada suatu kaum yang tidak disampaikan kepada kaum yang lain karena khawatir mereka tidak dapat memahaminya. Kemudian beliau membawakan perkataan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu , “Berbicaralah kepada orang banyak dengan apa yang dapat mereka fahami, sukakah kalian bila mereka nanti mendustai Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bâri mengatakan, “Hadits ini menunjukkan, sesuatu perkara yang masih samar tidak layak disebarkan ke tengah masyarakat awam. Perkataan Ali ini mirip seperti perkataan Ibnu Mas’ûd, “Tidaklah kamu menyampaikan sesuatu yang tidak dapat dicerna oleh akal suatu kaum, melainkan akan menimbulkan fitnah bagi sebahagian mereka.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim. Diantara pembicaraan yang menurut imam Ahmad makruh disampaikan kepada suatu kaum tetapi boleh disampaikan kepada kaum yang lain adalah pembicaraan tentang hadits yang makna tekstualnya membolehkan pemberontakan terhadap penguasa. Menurut Imam Mâlik, hadits-hadits yang bercerita tentang sifat Allah Azza wa Jalla . Menurut Abu Yusuf, hadits-hadits gharîb. Sebelumnya Abu Hurairah juga berpendapat demikian, seperti yang disebutkan sebelumnya tentang dua kantung hadits, satu kantung tidak disampaikan oleh beliau karena khawatir akan membahayakan keselamatan beliau. Demikian juga dari Hudzaifah dan dari al-Hasan bahwa mereka berdua mengingkari tindakan Anas yang menceritakan kisah ‘Uraniyîn kepada semua jama’ah haji, karena hal akan dijadikan dalih untuk berlebihan dalam menumpahkan darah seseorang. Secara tekstual hadits tersebut terlihat seperti menguatkan kebid’ahan, padahal maksud hadits tersebut tidak sebagaimana yang difahami secara tekstual. Oleh sebab itu, jangan menyampaikan hal-hal seperti ini kepada orang-orang awam yang hanya bisa memahaminya secara tekstual saja. Wallâhu a’lam.”

Pedoman ini sangat penting diperhatikan oleh setiap juru dakwah, khususnya di Indonesia, agar bisa menekan potensi timbulnya fitnah di tengah masyarakat yang mayoritas belum memahami agama dengan benar.

7. Menyebarkan Sunnah Tanpa Menimbulkan Konflik.
Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi telah membuat sebuah bab dalam kitabnya, al-Adab asy-Syar’iyyah, “Pasal, menyebarkan sunnah dengan perkataan dan perbuatan, tanpa menimbulkan pertengkaran dan tanpa kekerasan”. Dalam pasal ini beliau membawakan beberapa riwayat dari para ulama di antaranya, “Seorang lelaki pernah bertanya kepada Imam Ahmad, ia berkata, “Aku berada dalam sebuah forum yang disinggung perkara sunnah di dalamnya, tak ada yang tahu mengenai sunnah itu selain diriku, bolehkah aku membicarakannya?” Beliau menjawab, “Sampaikanlah sunnah dan jangan bertengkar karenanya.”

Demikian pula Imam Mâlik, beliau menganjurkan agar menyampaikan sunnah, namun bila tidak diterima lebih baik diam. [7]

Kesimpulan:
1. Pada asalnya dakwah harus disampaikan dengan hikmah dan lemah lembut.

2. Lemah lembut ini tidaklah menafikan sikap tegas dalam memegang prinsip, maka dari itu harus dibedakan antara mudaaraah dan mudaahanah.

3. Gangguan dan penentangan dari orang-orang jahil bisa saja muncul karena itu sudah menjadi sunnatullah.

4. Seorang da’i harus sabar dan berlapang dada menerima cobaan yang diterimanya dalam mengemban tugas dakwah.

5. Hikmah adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya, menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru dan berbicara sesuai situasi dan kondisi.

6. Konflik dan kontroversi bisa ditekan dan dihindari bila setiap juru dakwah memperhatikan hikmah dalam berdakwah.

7. Sabar dan santun adalah bekal yang paling berharga dalam mengemban tugas dakwah. Kesabaran akan melahirkan ketenangan dalam bertindak dan tidak tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu. Ketenangan itu berasal dari Allah Azza wa Jalla dan ketergesa-gesaan berasal dari setan. Dakwah yang dibangun atas sikap sembrono dan tergesa-gesa tidak akan membuahkan hasil yang positif. Bahkan sebaliknya, menimbulkan bencana demi bencana.

8. Hindari melontarkan komentar-komentar yang provokatif yang bisa memicu pertengkaran dan kerusuhan. Dan apabila muncul kesalahpahaman masyarakat tentang suatu isu yang menyangkut dakwah hendaklah segera dilakukan klarifikasi supaya fitnah tidak terlanjur menyebar dan membesar sehingga sulit terkendali.

Kejayaan Isalam Bukan Dengan Penampilan

Oleh: al Ustadz Abu Humaid Rosyid an Nashr

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai pada sebuah telaga di jalan yang menuju ke daerah Ilya’, sedangkan ada pada beliau sebuah gamis dari ba­han kain kasar yang telah digambar dan tepi ujung gamis itu terbakar. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pang­gilkan untukku, mana pemimpin kalian?” Mereka pun memanggil pemimpin mereka yang bernama Jalmus. Umar berkata, “Cucilah baju saya ini dan ja­hitlah, kemudian ukurlah ukuran baju atau gamis.”

Maka didatangkan kepada beliau sebuah kain “Kat­tan”. Umar bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Kattan.” Umar bertanya lagi, “Apa itu kain Kattan?” Lalu mereka pun menjelaskan tentang kain tersebut. Maka beliau melepaskan pakaiannya, lalu mencuci­nya dan mengukurnya, lalu diberikan kepada be­liau. Maka Umar melepas lagi pakaian mereka lalu memakai pakaiannya. Read the rest of this entry

Seseorang Tidak Akan Punya Kedudukan Sebelum Dirinya Diuji

Di nukil dari kitab “al-Fawaid” karangan Imam Ibnu Qoyim rahimahullah ta’ala pada hal 269, sebuah kata mutiara yang patut kita renungkan, berikut nukilanya:

Ada seseorang yang pernah bertanya kepada Imam Syafi’i, ia mengatakan: “Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih baik, seseorang yang di beri kedudukan atau diberi cobaan?

Maka Imam Syafi’i menjawab, “Tidak mungkin ada seseorang yang mendapat kedudukan melainkan setelah mendapat cobaan terlebih dahulu. Sesungguhnya AllahTa’ala telah memberi cobaan kepada para nabiNya, Allah Ta’ala memberi cobaan pada nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi kita Muhammad sholawatullah wa salaamuhu ‘alaihi ‘ajmain, ketika mereka semua mampu bersabar maka Allah Ta’ala memberi mereka kedudukan di muka bumi ini, jangan pernah engkau sangka kalau seseorang itu tidak akan pernah merasakan sakitnya cobaan hidup”.

Sumber: Ebook Mutiara Salaf

 

 

 

Do’a Adalah Ibadah

Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Turmudzi menunjukkan bahwa do’a merupakan jenis ibadah yang paling penting. Karena shalat tidak boleh ditujukan kepada Rasulatau wali. Demikian pula do’a.

1. Orang yang mengatakan “ya Rasululloh” atau “Hai orang yang ghaib, berilah aku pertolongan dan anugrah”, berartiberdo’a kepada selain Allah, meskipun niatrnya bahwa yang memberi pertolongan itu Allah. Demikian pula orang yang berkata,”saya shalat untuk Rasul atau wali” meskipun dalam hatinya untuk Allah, shalat seperti itu tidak akan diterima, karena ucapannya berlawanan dengan hatinya. Ucapan harus sesuai dengan niat dan keyakinan. Bila tidak demikian maka perbuatannya termasuk syirik yang tidak diampuni selain dengan taubat. Read the rest of this entry

Wasiat Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah kepada muridnya Musaddad rahimahullah

Al-Imam Abu Abdillah Ibnu Baththoh Al-’Ukbari rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya ‘Al-Ibanah’ sebuah kisah yang sangat indah tentang berpegang teguh kepada As-Sunnah.

Kisahnya, salah seorang murid Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang bernama Musaddad rahimahullah merasa kebingungan menghadapi dan menyikapi berbagai macam kelompok dan golongan dalam Islam, lalu berkirim surat kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah meminta nasehat; “Tuliskanlah untukku yang sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.” Read the rest of this entry